Kisah Cintaku

21 07 2008

DAHULU aku pernah mencintai seorang wanita. Aku sangat mencintainya sehingga kelakuanku sangat aneh. Kalau aku sedang lewat di lorong di samping rumah wanita pujaan hatiku itu, aku memegang tembok rumahnya. Aku rasakan gesekan tembok itu pada tanganku. Aku sadari bahwa di rumah ini, kekasih hatiku berada. Bila dari dalam rumah tercium bau-bauan, aku akan berhenti sebentar untuk menghirup bau-bauan itu. Aku tahu bahwa kekasih hatiku mungkin saat itu sedang menghirup bau yang sama.
Bila dari rumah itu keluar seorang bocah kecil, (belakangan aku tahu bocah itu adalah keponakan gadis kekasih hatiku itu) aku akan memeluk dan mencium pipi si bocah, karena aku yakin di pipi yang sama kekasih hatiku pernah mencium juga.

Mungkin aku gila waktu itu. Tetapi ternyata ada yang lebih gila dari aku….
Amrul Qais yang tergila-gila pada Laila (dalam kisah Laila Majnun) mengatakan kegilaan itu dalam syairnya:

“Tatkala aku lewat di kotanya Laila, aku cium setiap pohon dan pagarnya.
Bukan pohon dan pagar, sungguh, yang menggetarkan jiwa, namun seseorang yang tinggal di sana”

Bahkan ketika ditanya orang,

“Kau pilih mana: bertemu Laila atau mendapatkan dunia seisinya?”

Ia menjawab,

“Debu di sandal Laila lebih aku cinta dari pada dunia dan segala isinya.”

Subhanallah!

Ternyata ada yang lebih gila dari aku. Ternyata ada cinta sebesar itu yang terjalin sesama manusia.

Jadi, mustahilkah bila ada cinta yang lebih besar yang terjalin antara Hamba dengan Rabbnya? Mustahilkah bila ada cinta yang jauh lebih besar lagi yang terjalin antara Rabb dengan hambaNya?

Maka Rabb berkata, “Wahai hambaku, sesungguhnya Aku mencintaimu maka cintailah aku karena itulah HakKu.”

Ternyata selama ini Rabb telah berkali-kali menyatakan cintaNya kepada kita tetapi kita… menampikNya. Berkali-kali Rabb mengirimkan surat cinta kepada kita tapi kita mengacuhkanNya…

KIta biarkan Ia bertepuk sebelah tangan…

Kita tak peduli dengan permintaan-permintaanNya. Padahal Ia Mahakaya tak butuh dengan pemberian kita.
Kita langgar larangan-laranganNya. Padahal Ia selalu memenuhi semua kebutuhan kita.
Kita hina Nabi, KekasihNya, padahal tanda bahwa cinta sempurna dalam hati seseorang adalah wujudnya cinta kepada yang dicintai kekasih hati kita.

Kita sebut diri kita ‘anak-anak Tuhan’, tapi kita berdusta, berzina, berjudi, minum minuman keras, mencintai dunia, saling mendengki, menghina, mencaci yang pada akhirnya menimbulkan pertanyaan: “Kita ini anak-anak Tuhan ataukah anak-anak Setan?”

Dan yang paling parah adalah: Kita menghina Tuhan habis-habisan dengan mengatakan Tuhan punya anak! Alangkah bodohnya kita, menyinggung harga diriNya tetapi masih merasa kita adalah manusia pilihan.


Tindakan

Information

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.