2 tahun sudah aku menelantarkan blog ini. Alhamdulillah nggak di blokir oleh wordpress. Insya Allah mulai sekarang aku akan mengelolanya semampuku
2 Tahun Sudah
8 10 2010Komentar : Tinggalkan sebuah Komentar »
Kaitkata: Artikel Dakwah, Artikel Islam
Kategori : Uncategorized
Duduk di depan Allah
29 07 2008
DUDUK kita saat ini adalah duduk di depan Allah Subhaanahu Wa Ta’ala. Karena memang demikianlah sifat Hamba. Duduknya di depan Allah, berdirinya di depan Allah, makan, minum dan tidurnya juga di depan Allah Subhaanahu Wa Ta’ala. Dan karena memang demikianlah sifat Allah Subhaanahu Wa Ta’ala. Sehingga tidak ada suatu daunpun yang jatuh di tengah hutan lebat, kecuali diketahui oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sehingga tidak ada selembar daunpun yang jatuh di dalam gua di tengah hutan yang lebat, di malam hari yang gelap, kecuali dikontrol jatuhnya oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Pengetahuan Allah Subhanahu Wa Ta’ala meliputi yang tampak dan yang tak tampak. Ia Maha Mengetahui yang lahir maupun yang batin. Ia Maha Mengetahui yang rahasia maupun yang sangat rahasia. Ia mengetahui apa saja yang ada di dalam hati kita saat ini: rencana-rencana kita, niat kita, keinginan kita maupun semua ambisi kita.
Waktu shalat berjamaah di masjid misalnya, ada di antara kita yang berniat sungguh-sungguh menghadap kepadaNya, Ia tahu. Ada di antara kita yang sekedar ingin dilihat oleh teman, mertua atau atasan, Ia tahu. Bahkan ada pula yang shalat berjamaah dengan niat mencuri sandal, Iapun tahu.
Ialah Yang Mahawaspada. Maka waspadalah kepada Yang Mahawaspada itu.
Komentar : Tinggalkan sebuah Komentar »
Kategori : Uncategorized
Kisah Cintaku
21 07 2008DAHULU aku pernah mencintai seorang wanita. Aku sangat mencintainya sehingga kelakuanku sangat aneh. Kalau aku sedang lewat di lorong di samping rumah wanita pujaan hatiku itu, aku memegang tembok rumahnya. Aku rasakan gesekan tembok itu pada tanganku. Aku sadari bahwa di rumah ini, kekasih hatiku berada. Bila dari dalam rumah tercium bau-bauan, aku akan berhenti sebentar untuk menghirup bau-bauan itu. Aku tahu bahwa kekasih hatiku mungkin saat itu sedang menghirup bau yang sama.
Bila dari rumah itu keluar seorang bocah kecil, (belakangan aku tahu bocah itu adalah keponakan gadis kekasih hatiku itu) aku akan memeluk dan mencium pipi si bocah, karena aku yakin di pipi yang sama kekasih hatiku pernah mencium juga.
Mungkin aku gila waktu itu. Tetapi ternyata ada yang lebih gila dari aku….
Amrul Qais yang tergila-gila pada Laila (dalam kisah Laila Majnun) mengatakan kegilaan itu dalam syairnya:
“Tatkala aku lewat di kotanya Laila, aku cium setiap pohon dan pagarnya.
Bukan pohon dan pagar, sungguh, yang menggetarkan jiwa, namun seseorang yang tinggal di sana”
Bahkan ketika ditanya orang,
“Kau pilih mana: bertemu Laila atau mendapatkan dunia seisinya?”
Ia menjawab,
“Debu di sandal Laila lebih aku cinta dari pada dunia dan segala isinya.”
Subhanallah!
Ternyata ada yang lebih gila dari aku. Ternyata ada cinta sebesar itu yang terjalin sesama manusia.
Jadi, mustahilkah bila ada cinta yang lebih besar yang terjalin antara Hamba dengan Rabbnya? Mustahilkah bila ada cinta yang jauh lebih besar lagi yang terjalin antara Rabb dengan hambaNya?
Maka Rabb berkata, “Wahai hambaku, sesungguhnya Aku mencintaimu maka cintailah aku karena itulah HakKu.”
Ternyata selama ini Rabb telah berkali-kali menyatakan cintaNya kepada kita tetapi kita… menampikNya. Berkali-kali Rabb mengirimkan surat cinta kepada kita tapi kita mengacuhkanNya…
KIta biarkan Ia bertepuk sebelah tangan…
Kita tak peduli dengan permintaan-permintaanNya. Padahal Ia Mahakaya tak butuh dengan pemberian kita.
Kita langgar larangan-laranganNya. Padahal Ia selalu memenuhi semua kebutuhan kita.
Kita hina Nabi, KekasihNya, padahal tanda bahwa cinta sempurna dalam hati seseorang adalah wujudnya cinta kepada yang dicintai kekasih hati kita.
Kita sebut diri kita ‘anak-anak Tuhan’, tapi kita berdusta, berzina, berjudi, minum minuman keras, mencintai dunia, saling mendengki, menghina, mencaci yang pada akhirnya menimbulkan pertanyaan: “Kita ini anak-anak Tuhan ataukah anak-anak Setan?”
Dan yang paling parah adalah: Kita menghina Tuhan habis-habisan dengan mengatakan Tuhan punya anak! Alangkah bodohnya kita, menyinggung harga diriNya tetapi masih merasa kita adalah manusia pilihan.
Komentar : Tinggalkan sebuah Komentar »
Kategori : Hikmah
